Senin, 22 Desember 2008

PENGERTIAN AGAMA, TUJUAN AGAMA DAN MACAM-MACAM AGAMA,

BAB I
PEMBAHASAN

1.Pengertian Dinul Islam (Agama)

Kata Dinul Islam berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu Addinu dan Al islam. Addinu atau Din artinya batasan atau aturan yang tidakboleh dilanggar. Addinu juga dapat diartikan dengan agama, keyakinan atau adat istiadat. Sedangkan Al Islam artinya suatu sikap tunduk dan patuh pada aturan tertentu untuk memperoleh keselmatan atau sejarah. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 19
Artinya “ Sesungguhanya agama (yang diridhai) disisi Allah Hanyalah Islam.”

Jadi Dinul Islam menurut istilah agama Islam berarti sikap tunduk dan patuh kepada tata aturan yang berasal dari Allah Swt yang diperuntukan untuk segenap manusia yang disampaikan melalui Nabi Muhammad Saw untuk memperoleh kesejahteraan dan keselamatan hidup manusia di dunia dan di akhirat. Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 153.
Artinya “ Dan bahwa (yang kami perintahkan ini adalah Jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain) karena kamu jalan – jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya, yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

Seluruh ajaran Islam itu bersumber dari Wahyu Allah Swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw, bukan berdasarkan hasil pemikiran dan renungan Nabi sendiri. Dalam hal ini beliau hanya sebagai penyampaian (rasul). Oleh sebab itu Islam termasuk agama Samawi yang telah mencapai tingkat kesempurnaan yang lengkap serta berlaku secara universal. Kebenaran Islam dapat dirasakan oleh manusia sepanjang manusia memiliki iman dan akal yang sehat.
Sesuai dengan arti Islam adalah keselamatan dan Islam itu mengutamakan keselamatan dan kedamaian, maka untuk mencapai hidup selamat dan sejahtera diperlukan adanya usaha memenuhi kewajiban-kewajiban tertentu, baik berupa ibadah maupun muamallah. Ketentuan pelaksanaan ibadah dan muamallah ini menjadi ajaran pokok yang harus dipedomani seseorang.

1.2 Tujuan Dinul Islam
Menurut konsep Islam, Allah Swt menurunkan agama Islam sebagai agama yang sempurna kepada utusannya yang terakhir yaitu kepada Nabi Muhammad Saw mempunyai tujuan di turunkannya agama Islam ke muka bumi ini adalah:
Mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya
Hubungan manusia ini dengan Allah ini dapat dikatakan sebagai hubungan antara makhluk dengan khaliknya, atau hubungan antara yang diciptakan dengan penciptanya. Bentuk hubungan ini dapat dilihat dari firman Allah Swt dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالأِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (الذريات:56)

Artinya “ Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia terkecuali untuk mengabdi kepadaKu.”

Dari ayat diatas dapatlah dipastikan manusia diciptakan hanyalah berbakti kepada Allah. Untuk memberi petunjuk kepada manusia mengenai cara-cara mengabdi yang diperintahkan oleh Allah Swt maka ia mengutus nabi – nabi untuk menjelaskan tentang masalah pengabdian itu.

Mengatur hubungan manusia dengan manusia.
Manusia sebagai makhluk sosial sudah barang tentu hidup bersama dengan anggota lainnya ia bisa mempengaruhi dan bisa juga dipengaruhi, iya bentuk sesuatu untuk bisa hidup dan berkembang, tetapi kehidupan dan berkembang lebih baik tanpa uluran tangan orang lain. Sehubungan dengan hal tersebut diatas ajaran Islam memberikan pedoman hidup bagi manusia, antara lain berupa suruhan atau anjuran agar sesama manusia saling hidup tolong menolong, manusia yang mampu harus menolong yang miskin, yang kuat harus menolong yang lemah, dan yang pandai meberikan pelajaran kepada yang bodoh dan seterusnya. Baik diminta maupun tidak, selama yang diberi pertolongan itu mau menerimanya. Firman Allah Swt dalam surat Al-Maidah ayat 2.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الْأِثْمِ وَالْعُدْوَان
ِ (المائدة: من الآية2)
Artinya “ Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”


Mengatur Hubungan Manusia Dengan Makhluk Lain
Sebagaimana diketahui bahwa alam diciptakan Allah Swt dan segala isinya adalah diperuntukan kepada manusia. Sepertii dalam surat An-Nahl ayat 12
Artinya “ Dan Dia menundukan malam dan siang matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang itu ditundukan (untukmu) dengan perintahNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya.”

Dalam memanfaatkan alam ini manusia tidak terlepas dari peraturan-peraturan yang mengikat mereka. Dunia ini diperuntukan bukan untuk kepentingan manusia semata-mata. Alam ini akan rusak karena ulah tangan manusia, jadi marilah kita sadari pentingnya syariat agama dengan pemanfaatan serta pelestarian alam demi untuk kepentingan manusia bersama.

2. Aspek-Aspek Agama
Aspek-aspek agama itu ada tiga yaitu
2.1 Aqidah
Aqidah adalah merupakan pokok kepercayaan terhadap Allah Swt tanpa aqidah semua pelaksanaan amalan tidak ada gunanya. Aqidah itu dasar iman yang tetanam dalam jiwa manusia yang mengarahkan kepada satu kepercayaan bahwa Allah Swt yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini, dan sebagai konsekwensinya maka Allah Swt lah yang wajib kita sembah, memohon petunjuk dan pertolongannya (tauhid ululhiqah). Firman Allah Swt dalam surat Al-Maidah ayat 36.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت (النحل: من الآية36)
Artinya “Dan sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul hendaklah kalian menyembah Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhi thoghut.”

2.2 Syari’ah
Syari’ah adalah ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam hukum Allah yang harus dilaksanakan dan dipengaruhi oleh manusia yang bertauhid kepadaNya, sebagai manifestasi dari aqidah seseorang. Pelaksanaan dan kepatuhan seseorang kepada syari’ah ini disebut ibadah.
Adapun syari’ah berhubungan dengan urusan – urusan ibadah qhair muhdah atau ibadah aam(umum) yang menyangkut urusan keduniaan baik hukum, cara peradilan, politik pengaturan negara pertahanan keamanan dll dipersilahkan kepada manusia selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok syari’ah.

2.3 Akhlaq
Akhlaq itu ialah perbuatan, sikap maupun tingkah laku yang terpuji sebagai manifestasi dari kadar keimanan dan kepatuhan terhadap syari’ah Islam. Ajaran akhlaq sangat terpengaruh terhadap hidup dan kehidupan manusia, maka pantaslah kalau Dinul Islam mengutamakan pengajaran akhlaq ini. Akhlaq akan menjadi penentu semangat atau tidaknya seseorang dalam kehidupannya di dunia dan di akhirat.
3.Macam-Macam Agama
Dikatakan sebuah agama bila mencakup tiga hal pokok ini yaitu:
o Keyakinan (credial)
Yaitu keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural yang diyakini mengatur dan menciptakan alam
o Peribadatan (ritual)
Yaitu tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi atau pengakuan dan ketundukan.
o Sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya atau alam semesta yang dikaitkan dengan keyakinan tersebut.

Dikaitkan dengan arti agama diatas maka sesungguhnya pengertian agama menjadi sangat luas. Tiada seorangpun yang tidak menganut suatu ajaran agama. Boleh jadi seseorang menyatakan dirinya tidak beragama namun pada hakikatnya ia telah membuat suatu ajaran tertentu menjadi agamanya.
Ditinjau dari sumbernya agama dibagi dua, yaitu agama wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu adalah agama yang diterima oleh manusia dari Allah Sang Pencipta melalui malaikat Jibril dan disampaikan serta disebarkan oleh RasulNya kepada umat manusia. Wahyu-wahyu dilestarikan melalui Al-Kitab, Suhuf ( lembaran-lembaran bertulis) atau ajaran Islam.
Agama bukan wahyu bersandar semata-mata kepada ajaran seorang manusia yang dianggap memiliki pengetahuan tentang kehidupan dalam berbagai aspeknya secara mendalam. Contohnya agama budha yang berpangkal pada ajaran Sidharta Gautama dan Confusianisme yang berpangkal pada ajaran Kong hu chu. Meskipun pada umumnya tidak diakui secara formal, sesungguhnya banyak isme-isme yang dianut oleh manusia berlaku pula sebagai agama bukan wahyu.
Dalam aspek keaslian wahyu agama-agama terdapat sebuah persoalan yang patut dicermati. Adakalanya suatu agama wahyu dalam perjalanan sejarahnya mengalami distori-distori karena kurang terjaganya pengamanan wahyu. Wahyu yang dilestarikan dalam tradisi lisan dapat mengalami penyimpangan dengan adanya usaha untuk mengubah ajaran dari warna aslinya. Oleh karena itu boleh jadi dalam agama yang disebut agama wahyu terbawa didalamnya ajaran-ajaran manusia pula.
Ditinjau dari segi misi penyebarannya ada agama misionaris dan agama bukan misionaris. Agama misionaris adalah agama yang menuntut penganutnya untuk menyebarkan ajaran-ajarannya kepada manusia lainnya. Agama bukan misionaris adalah agama yang tidak menutut penganutnya untuk menyebarkan ajarannya kepada orang lain. Jadi cukup disebarkan kepada lingkungan tertentu yang menjadi misi utamanya. Agama Islam sangat jelas dan tegas menekankan aspek misionarisnya. Akan tetapi pada kenyataannya hampir semua agama ini menjadi agama misionaris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar